Sustainability Report semakin menjadi bagian penting dalam komunikasi perusahaan kepada para pemangku kepentingan. Laporan ini memberikan informasi mengenai bagaimana perusahaan mengelola dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial serta mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam kegiatan bisnis. Bagi Emiten dan Perusahaan Publik di Indonesia, penyusunan Sustainability Report didasarkan pada POJK Nomor 51/POJK.03/2017 dan ketentuan teknis OJK yang mengatur bentuk serta isi laporan keberlanjutan.
Namun, Sustainability Report yang berkualitas tidak cukup dibangun hanya dengan memenuhi daftar pengungkapan. Kredibilitas laporan sangat bergantung pada kualitas data, relevansi informasi, konsistensi metode pengukuran, serta kemampuan perusahaan dalam menjelaskan hubungan antara strategi keberlanjutan dan kegiatan bisnis. GRI Standards juga menekankan pentingnya prinsip kualitas pelaporan seperti akurasi, keseimbangan, kejelasan, keterbandingan, kelengkapan, konteks keberlanjutan, ketepatan waktu, dan keterverifikasian.
Memastikan Kualitas dan Keterlacakan Data
Data merupakan fondasi utama Sustainability Report. Informasi mengenai konsumsi energi, emisi gas rumah kaca, penggunaan air, pengelolaan limbah, keselamatan kerja, keberagaman karyawan, pelatihan, hingga kontribusi kepada masyarakat perlu didukung oleh sumber data yang jelas.
Tantangan dapat muncul ketika data keberlanjutan tersebar di berbagai unit kerja. Data energi mungkin berada pada bagian operasional, data karyawan berasal dari Human Resources, data keselamatan berasal dari fungsi K3, sedangkan informasi mengenai program masyarakat dikelola oleh fungsi yang berbeda. Apabila setiap unit menggunakan definisi, periode, atau metode pengukuran yang berbeda, konsistensi laporan dapat terganggu.
Perusahaan perlu menetapkan proses pengumpulan data yang terstruktur. Setiap indikator sebaiknya memiliki data owner, sumber dokumen, periode pelaporan, metode perhitungan, serta mekanisme validasi. Proses tersebut membantu perusahaan menelusuri asal suatu angka saat dilakukan review atau ketika ditemukan perbedaan dibandingkan dengan laporan periode sebelumnya.
Aspek keterbandingan juga penting. Apabila perusahaan melaporkan penurunan konsumsi energi sebesar 10 persen, misalnya, pembaca perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai periode perbandingan, cakupan data, metode pengukuran, serta faktor-faktor yang memengaruhi perubahan tersebut. Angka tanpa konteks dapat mengurangi nilai informasi yang disampaikan.
Menentukan Materialitas dan Relevansi Pengungkapan
Sustainability Report yang panjang belum tentu menunjukkan kualitas pelaporan yang lebih baik. Kualitas informasi juga ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi isu yang paling relevan dengan dampak dari kegiatan usahanya.
GRI Standards menggunakan konsep material topics untuk membantu organisasi menentukan topik yang mencerminkan dampak paling signifikan terhadap ekonomi, lingkungan, dan manusia. Proses penentuan materialitas perlu mempertimbangkan konteks kegiatan usaha serta keterlibatan para pemangku kepentingan.
Pendekatan tersebut membuat prioritas pengungkapan setiap perusahaan dapat berbeda. Perusahaan pertambangan, misalnya, dapat menghadapi isu lingkungan dan hubungan dengan masyarakat yang berbeda dari perusahaan jasa keuangan atau perusahaan teknologi. Perbedaan karakteristik bisnis perlu tercermin dalam topik yang dibahas serta indikator yang digunakan.
Materialitas juga perlu diterjemahkan ke dalam kualitas narasi. Ketika suatu isu dianggap material, perusahaan perlu menjelaskan bagaimana isu tersebut dikelola, kebijakan yang diterapkan, target yang ditetapkan, capaian yang diperoleh, serta tantangan yang masih dihadapi. Pengungkapan yang hanya berisi daftar program tanpa informasi mengenai hasil dan dampaknya akan memberikan gambaran yang lebih terbatas tentang kinerja keberlanjutan.
Pendekatan berbasis materialitas juga membantu perusahaan menghindari pengungkapan yang sekadar seremonial. Sustainability Report seharusnya memberikan gambaran mengenai isu keberlanjutan yang benar-benar berkaitan dengan kegiatan dan dampak perusahaan.
Mengintegrasikan ESG ke dalam Proses Pelaporan
Kredibilitas Sustainability Report pada akhirnya bergantung pada seberapa baik perusahaan mengintegrasikan sustainability reporting ke dalam proses bisnis dan sistem pelaporan. Sustainability Report tidak seharusnya menjadi pekerjaan yang baru dimulai ketika batas waktu publikasi semakin dekat.
Proses penyusunan ini membutuhkan koordinasi lintas fungsi. Corporate Secretary dapat berperan dalam mengoordinasikan proses pelaporan, sementara fungsi sustainability, operasional, keuangan, Human Resources, procurement, risk management, legal, dan unit terkait lainnya menyediakan informasi sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.
Perusahaan dapat membangun reporting checklist, data request list, timeline pengumpulan informasi, mekanisme review, serta proses persetujuan sebelum laporan diterbitkan. Struktur tersebut membantu memastikan bahwa informasi yang masuk telah diperiksa dan memiliki dasar yang memadai.
Konsistensi antara Sustainability Report dan Annual Report juga perlu diperhatikan. Informasi mengenai strategi, risiko, tata kelola, sumber daya manusia, maupun kinerja perusahaan sebaiknya tidak menunjukkan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan. Integrasi tersebut semakin penting ketika perusahaan mulai menghubungkan informasi keberlanjutan dengan dampaknya terhadap kinerja dan prospek bisnis.
Perusahaan juga dapat menggunakan dukungan dari penyedia jasa profesional dalam proses penyusunan Sustainability Report. Dukungan tersebut dapat mencakup pemetaan regulasi dan standar, penentuan kebutuhan pengungkapan, pengumpulan dan pemeriksaan data, penyusunan narasi, hingga quality control dan desain laporan. Dalam memilih penyedia jasa, perusahaan perlu mempertimbangkan pemahaman terhadap standar keberlanjutan, pengalaman di industri yang relevan, metodologi pengumpulan data, serta mekanisme pemeriksaan kualitas.
Sustainability Report yang berkualitas pada akhirnya dibangun melalui data yang dapat ditelusuri, pengungkapan material, narasi yang berimbang, serta proses pelaporan yang terintegrasi. Kredibilitas laporan tidak ditentukan oleh banyaknya halaman atau jumlah indikator yang diungkapkan, melainkan oleh kemampuan perusahaan dalam menyajikan informasi yang relevan, akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan pendekatan tersebut, Sustainability Report dapat berkembang dari sekadar dokumen pelaporan menjadi instrumen transparansi ESG yang membantu pemangku kepentingan memahami bagaimana perusahaan mengidentifikasi dampak, mengelola risiko dan peluang keberlanjutan, serta menghubungkan agenda keberlanjutan dengan strategi dan kegiatan bisnis.




